Bermain di Kamar
“Ayo kita lompat, Dik.” Ajak
Nawa, dari pinggiran tempat tidur, yang menjadi papan lompat.
“Kamu duluan, Mas, yang lompat.”
Kata Mada.
Nawa dan Mada bermain di kasur. Di
kamar tidur yang mereka gunakan untuk istirahat bersama Bapak dan Mama. Mereka senang
main lompat. Tertawa sepuasnya.
Tapi kali ini mereka ingin
melompati kelambu lentur yang dilipat Bapak dan ditaruh di pojokan tempat
tidur. Bantal dan guling mereka tumpuk. Mereka gunakan sebagai tangga lompatan.
“Ayo, Dik, kita mulai lompat. Bareng
ya.” Ajak Nawa kembali. Rasa bahagia memenuhi wajahnya. “Kita bareng ya
lompatnya. Aku hitung sampai tiga ya.” Seru Nawa berulang kali.
Lalu pecah tangisan suara Mada. Tangisan
kesakitan. Terdengar menyayat hati. “Hei, hei.” Ujar Mama. “Kenapa Adik
menangis?”
Mada menjelaskan panjang lebar. Tak
lupa sesenggukan. Ketika mereka bersepakat lompat bersama dari ujung tempat
tidur. Mada belum juga siap, tetapi Nawa terlanjur menarik tangannya. Wajah Mada
terjerembab ke kasur. Tangannya sedikit ngilu.
“Adiknya lama, Mama, aku sudah
menyampaikan akan lompat.” Sahut Nawa, dengan wajah ngotot. Tak merasa
perbuatannya merugikan Mada.
“Marahin Mas Mama. Dia tiba-tiba Tarik
tanganku. Ayo, Mama marah sama dia.” Pinta Mada. Dia masih sesenggukan.
“Oh sayang. Mana yang sakit,
cantik? Sini Mama usap.” Ujar Mama dengan lembut. Mama mengusap lengan dan wajah
yang ditunjuk Mada. Dengan hati-hati. Mada merajuk. Air matanya menganak
sungai.
Pijatan lembut Mama mampu menjadi
obat sakit hati Mada. “Masih sakit lengannya? Masih kesal sama Mas Nawa? Duh Mada
sedih dan kesal ya karena tiba-tiba Mas Nawa menarik lengan Mada?” Demikian Mama
sedang menetralkan perasaan Mada dengan menerima sepenuhnya emosi yang sedang dirasakan,
disertai sentuhan.
Berangsur-angsur Mada kembali
tenang. Dia berhenti sesengguhkan. Dia terlihat tidak ingin membalas perlakuan
Nawa. Nawa mengulurkan tangan sebagai tanda permintaan maaf. Mada menerimanya
dengan baik.
“Maaf ya, Dik, tadi aku membuatmu
jatuh. Lompat lagi yuk?” Ajak Nawa. Dengan senyum usilnya.
“Aduh, aduh, cukup lompatnya.”
Ujar Mama memotong ajakan Nawa. “Sudah larut malam. Tubuh kita lelah. Dia harus
istirahat. Mari gosok gigi dan buang air kecil.” Malam tiba. Mereka bersiap
untuk tidur tanpa menyisakan dendam.
Komentar
Posting Komentar