Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kajian

Ramadan, O Kekasih

Gambar
Ramadan, Menyambutmu penuh sukacita ciri keimanan Ramadan, Mencumbuimu adalah dambaan Ramadan O Ramadan, Pada malam-malammu ada seribu bulan Ramadan, Dirimu mendapat kehormatan diturunkannya al-Quran Ramadan, Kaum papa terhibur oleh harta sang dermawan Ramadan O Ramadan, Kebaikan yang kami lakukan pahalanya terlipat gandakan Ramadan, Hanya di bulanmu terjadi sale besar-besaran dan diskon tak karuan Ramadan O Ramadan, Aku berharap semua orang mendapat kesempatan mereguk kesucian Kurang lebih tiga bulan lagi kita akan kedatangan tamu kehormatan yg bernama Ramadan. Di bulan itu, semua muslim dan muslimah mendapatkan mandat dari Allah swt untuk melaksanakan ibadah yang paling rahasia, yakni puasa. Saya jadi (agak) paham, mengapa Allah swt melipatgandakan semua jenis kebaikan yg kita lakukan pada bulan ini. Pertama, niat yg kita ikrarkan (usai  melaksanakan shalat tarawih) menjadikan keseluruhan aktifitas kita pada keesokan harinya menjadi ibadah. ...

Manusia dan Keunikannya (Terinspirasi dari Kajian Risalah Nur, al-Lama'at, Cahaya ke Tujuh Belas, Memoar ke Delapan)

Gambar
Kisah pertama. Saya pernah disergap rasa haru yang luar biasa. Saat perjalanan ke Cipanas dengan sahabat saya, Lanny. Saya menyaksikan pohon tinggi menjulang. Rindang. Seolah dia mengajak saya bicara. Dia (si pohon) membisikkan mesra kalimat berikut, "Hei, Titin. Aku mematuhi perintah Rabb kita. Aku cermin Keindahan Rabb kita." Saya membenarkan perkataan si pohon. Sepanjang jalan menuju puncak ke Cipanas mata saya mengagumi pohon yg jumlahnya mungkin ratusan ribu. Mereka kepanasan dan kedinginan. Namun tidak tumbang. Iseng banget bila ada orang yang menyiram mereka. Nggak mungkin kan? Namun mereka memberi kebahagiaan bagi yang memandangnya. Seolah dengan bangga memperlihatkan ada Keindahan Allah pada mereka. Pasti Allah swt. Yang Mengurus mereka. Lalu saya merasa tertampar dengan sendirinya, "Tin, keluhanmu banyak sekali. Yang jomblo lah (saat itu saya masih perawan tidak muda). Merasa berjuang sendirian (saat itu saya menanggung biaya perkuliahan s1 sendiri...

Iman dan Keshalihan

Gambar
Kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatannya. Tolok ukurnya bukan sebagus apa pakaian yang dikenakannya. Bukan pula sebanyak apa harta kekayaannya. Mari kita mengingat sejarah. Adalah Qarun, sang konglomerat, memiliki kebiasaan memamerkan harta kekayaannya. Ia membawa sepuluh pria kekar dan kuat hanya untuk memanggul kunci-kunci harta kekayaannya. Dalam riwayat Isra' mi'raj, Rasulullah saw. melakukan dialog dengan Nabi Musa as. Melalui percakapan dalam dialog itu kita tahu bahwa umat Nabi Musa as memiliki fisik yang lebih Kuat dibandingkan dengan umat Nabi Muhammad saw. Qarun adalah umat Nabi Musa as . Apakah dengan kekayaan Qarun yang melimpah lantas menjadikannya mulia di mata Allah swt? Sekali-kali tidak. Bila kita mendengar istilah harta karun barangkali yg dimaksud adalah Qarun, sepupu Nabi Musa as yg dibenamkan oleh Allah di dasar bumi sebab sikap pamer dan pelitnya itu. Hal ini dialami pula oleh Raja Fir'aun, tepatnya Ramses II....

Zikir; Mengingat Allah

Manusia memiliki kawan dekat bernama gelisah bin galau. Kapan kawan dekat itu bertamu? Kala hati dan pikir manusia tidak tenang. Apa yang membuat manusia galau? Banyak hal. Salah satunya, Allah Menyebutkan dalam QS. Al-Taubah: 24. Di ayat itu Allah memberikan daftar. Yaitu: 1. Orangtua 2. Keturunan 3. Saudara 4. Pasangan 5. Keluarga 6. Harta kekayaan 7. Perdagangan yang dikhawatirkan merugi 8. Rumah-rumah yang kita cintai dan banggakan Bila kedelapan daftar kecintaan di atas memenuhi dan melebihi cinta kita pada Allah dan RasulNya, maka ancaman Allah pasti nyata. Perasaan dan pikiran selalu kita arahkan pada hal duniawi yang pasti pergi, rusak, dan tidak abadi. Jiwa menjadi tidak tenang. Kemrungsung. Bagaimana agar kita terhindar dari galau bin cemas bin senewen? Zikir jawabannya. Allah swt. Berfirman: " Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi ten...

Orang yang Dirindukan Nabi Muhammad

بكى رسول الله يومًا, فقالوا: ما يبكيك يا رسول اللّه؟ قال: اشتقت لأحبابي, قالوا: أولسنا أحبابك يا رسول الله؟ قال: لا أنتم أصحابي, أما أحبابي فقوم يأتون من بعدي يؤمنون بي ولم يروني, فهل اشتقتم للحبيب كما اشتاق لهم الذي أحبكم ولم يركم؟ Suasana di majlis Nabi saw. seketika hening. Sahabat-sahabat utama nabi merasakan kecemburuan yang luar biasa. Bahkan Abu Bakar ra. membenamkan wajahnya dalam-dalam. Ikut merasakan emosi yang bergejolak di hati Nabi saw. Manusia agung tsb. merindukan saudara-saudaranya. Matanya basah sebab kerinduan yang menggelora. Seorang sahabat menyeletuk, "Kami kan saudara-saudaramu ya, Nabiyallah." "Bukan. Kalian sahabat-sahabatku. Kali ini rinduku tertuju pada saudara-saudaraku yang mengimaniku meski mereka tidak melihatku dan tidak sezaman denganku." Jawab Nabi saw. tegas sekaligus syahdu. Rupanya jarak dan masa bukan ukuran penilaian keshalihan bagi Nabi saw. Bertemu dengan wajah Nabi saw. tidak menjadi kriteria kecintaan yang men...

Memakmurkan Masjid

Gambar
Memasuki bulan Ramadan umat Islam berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu cara untuk mendekat kepada Allah ialah beribadah dengan penuh keikhlasan di masjid. Masjid merupakan rumah Allah di muka bumi. Mereka yang memakmurkan masjid merupakan keluarga Allah. Apakah kita bagian dari keluarga Allah? Dalam QS. Al-Taubah/9: 18 Allah telah mengidentifikasi siapa yang akan memakmurkan masjid. Mereka itu adalah: Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian Orang yang menegakkan shalat Orang yang menunaikan zakat Orang yang tidak takut pada apapun kecuali kepada Allah Artinya: "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakn shalat, menunaikan zakat, dan tidak kepada (apapun) kecuali Allah. Maka mudah-mudahan mereka mendapatkan petunjuk." QS. Al-Taubah/9: 18. Berdasarkan ayat di atas, Al-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ...

WHO AM I?

Siapa Sesungguhnya Kita? Kita adalah TURIS di dunia ini. Rasulullah saw. bersabda, كُنْ فِي الدُّنْيَا كَاَنَّكَ غَرِيِبٌ اَوْ عَابِرِ سَبِيْل (رواه البخاري) (Kun Fiddunya Kaannaka Ghariibun au 'aabiri Sabiil). Artinya: "Hiduplah di dunia seperti orang asing atau seperti orang yang sedang dalam perjalanan panjang." (H.R. Bukhari). Bagaimana seharusnya orang asing itu bersikap? Orang asing akan selalu berhati-hati. Karena dia belum paham betul daerah yg dikunjungi. Ia akan merasa takut untuk melakukan hal buruk. Kemudian supaya manusia itu selalu ingat bahwa ia orang asing di dunia ini, dan rumah asalnya adalah...

IBADAH DAN TINGKATAN DERAJAT PELAKUNYA

Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Bentuk-bentuk ibadah 1. Ibadah hati: mencintai Allah, takut padanya, bertawakkal kepadanya. Ini termasuk ibadah yang paling mulia dan utama. 2. Ibadah fisik: Diantaranya ibadah yang dilakukan dengan lidah, seperti dzikrullah, membaca al-Qur’an, dan berkata baik. Ada pula ibadah yang terkait dengan anggota fisik lainnya, seperti wudhu, puasa, shalat, menghindarkan gangguan di jalan. 3. Ibadah lewat harta:seperti zakat, sedekah, infaq dalam aspek-aspek kebaikan. Tiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam menjalankan ibadah. Ada yang suka puasa. Segala jenis puasa ia tegakkan; wajib dan sunah. Ada yang senang shalat, wajib maupun sunah. Ada yang cinta infaq dan bersedekah. Ada yang memilih senyum, seringan-ringannya sedekah. Pilihan dari beragam cara ibadah tersebut rupanya melahirkan derajat pelakunya. Dari ya...

Pentingnya Menjaga Ucapan

Pagi pukul 06.15 WIB aku dan mbak Hani, kakak iparku, tiba di pasar Cimanggis-Ciputat. Bau pesing  dan suasana kotor laiknya pasar tradisional segera menyengat hidungku. Sayuran busuk tercecer di mana-mana. Ibu-ibu sosialita tak mungkin berkunjung kemari. Kecuali bajet mereka pas-pasan. Kedatangan kami di sini untuk membuat santapan menyambut tahun baru Masehi 2018.  Kami mendatangi toko langganan mbak Hani untuk membeli daging namun kehabisan. Lalu kami mencari penjual daging lain. Alhamdulillah ketemu. Mbak Hani transaksi, aku mengamati. Tiba-tiba salah seorang mas berkaos hijau menghampiriku. “Masih sekolah ya, mbak?” Tanya penjual daging. “Udah punya anak lima.” Jawabku biasa saja. Tidak ramah, tidak ketus. “Udah punya cucu berarti ya?” Kejarnya dan tidak kujawab. Ekspresiku biasa. Ia tidak pula tersinggung dengan responku. Mengapa sapaan si penjual daging masih lekat di memoriku? Kemungkinan ada dua. Pertama. Aku sadar, usiaku yang 30-an bukan lagi us...