Postingan

Selamat Natal dan Tahun Baru

Gambar
Natal 2018 kali ini istimewa sekali. Gimana tidak, akhirnya saya mempunyai teman yg beda agama dan saya bisa mengucapkan selamat kepada teman -teman diskusi parenting Kamisan Charlotte Mason Tangerang Selatan. Kamisan, sebuah istilah untuk kegiatan yg dilakukan berulang-ulang. Dalam hal ini, kami diskusi tatap muka secara langsung di hari Kamis. Saya mendapat banyak keberuntungan gabung di kelompok tsb. Kami mendiskusikan filsafat pendidikan berbasis karakter buah pemikiran Charlotte Mason. Seorang pendidik dan filosuf asal Inggris. Saya beruntung berada di tengah emak-emak pembelajar tinggi. Lifelong learner abis. Bagi saya, lifelong learner merupakan karunia Allah yg tertinggi. Di tengah-tengah dunia yg semakin edan ini. Berkat bergaul dgn mereka, setidaknya saya terhindar dari kepribadian yg kagetan (mudah kaget) karena menghadapi perkembangan dunia yg serba cepat. Saya mendengar berbagai topik yg kami bincangkan. Topik pembicaraan kami, Emak-emak CM Tangsel, seputar buku-buku ...

Mengapa Narasi?

Gambar
Saya suka menulis. Dari dulu. Situs ini adalah blog kedua. Blog pertama raib. Saat sedang repot-repotnya mengasuh dua bayi, saya berhenti menulis. Saya sibuk dengan depresi saya sendiri. Sampai-sampai saya lupa password blog, password instagram, password twitter, password tumbler dlsb. Masing-masing social media itu udah banyak pengikutnya. Di tengah-tengah kerapuhan mental, keinginan menulis bangkit kembali. Saya tahu persis bagaimana keadaan pikiran gelap. Inginnya mencari mangsa sasaran kemarahan. Bila marah pada anak-anak, saya menyakiti mental dan fisik mereka. Secara fisik, saya cubit dan tampar. Secara mental saya teriaki. Apakah saya malu menulis semua ini? Sangat malu. Saya khatam membaca buku manajemen anger dan buku spiritualitas seorang ibu. Apa setelahnya cara melampiaskan marah saya menjadi baik? Tidak. Justru di situ saya semakin putus asa. Rumah mental saya ambruk. Sementara saya harus menghadapi banjir yg mana penyebab banjirnya saya sendiri yg bertahun-tahun a...

Iman dan Keshalihan

Gambar
Kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatannya. Tolok ukurnya bukan sebagus apa pakaian yang dikenakannya. Bukan pula sebanyak apa harta kekayaannya. Mari kita mengingat sejarah. Adalah Qarun, sang konglomerat, memiliki kebiasaan memamerkan harta kekayaannya. Ia membawa sepuluh pria kekar dan kuat hanya untuk memanggul kunci-kunci harta kekayaannya. Dalam riwayat Isra' mi'raj, Rasulullah saw. melakukan dialog dengan Nabi Musa as. Melalui percakapan dalam dialog itu kita tahu bahwa umat Nabi Musa as memiliki fisik yang lebih Kuat dibandingkan dengan umat Nabi Muhammad saw. Qarun adalah umat Nabi Musa as . Apakah dengan kekayaan Qarun yang melimpah lantas menjadikannya mulia di mata Allah swt? Sekali-kali tidak. Bila kita mendengar istilah harta karun barangkali yg dimaksud adalah Qarun, sepupu Nabi Musa as yg dibenamkan oleh Allah di dasar bumi sebab sikap pamer dan pelitnya itu. Hal ini dialami pula oleh Raja Fir'aun, tepatnya Ramses II....

Menjadi Orangtua

Gambar
Narasi buku Cinta Yang Berpikir, Ellen Kristi, bagian Miliki Cinta Yang Berpikir, selesai. Anggapan menjalankan peran sebagai orangtua itu mudah, tidaklah benar. Kasarnya, si istri 'cukup' hamil lalu melahirkan. Dan secara otomatis surga berada di bawah telapak kakinya. Selesai. Sementara si suami 'cukup' hanya mencari nafkah demi terpenuhinya materi kebutuhan rumah tangga. Apalagi ketika wafat dalam keadaan mencari nafkah. Syahidlah dia. Surga menunggu dihuni olehnya. Habis perkara. Meskipun, tantangan fisiologis pasutri tsb. tidak semua pasangan mampu melaluinya dengan baik. Lebih-lebih masalah seputar pengasuhan anak. Si ibu menghandle semua keperluan rumah, kebutuhan lahir batin suami dan si anak. Si ayah mati-matian (dan ada yg mati betulan) dalam memenuhi semua jenis kebutuhan dalam rumah tangga. What? Apa benar tugas orangtua sekedar 'itu'? Tidakkah orangtua butuh hal yg lebih patriotis? Saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa tiap orangtua sudah...

Miliki Cinta yang Berpikir

Gambar
Narasi buku Cinta Yang Berpikir, Ellen Kristi, bagian Miliki Cinta Yang Berpikir, hlm. 9-11. Suasana akrab komunitas belajar Charlotte Mason Tangerang Selatan betul-betul membuat hati haru. Bagaimana tidak! Siang itu saya mengendarai motor menuju tempat diskusi. Dengan membonceng Nawa di belakang dan Mada di depan. Diskusi diadakan tiap Kamis siang, saat jam tidur anak-anak. Wajar bila menuju ke tempat tujuan Nawa dan Mada tertidur. Angin sepoi membelai mereka saat di perjalanan. Begitu tiba di rumah Mbak Arum (tempat diskusi kami), Mbak Arum dan Mbak Nares tanpa saya minta langsung sigap menolong anak-anak yg tertidur di motor. Hati saya trenyuh. Kami baru dua kali jumpa. Pikiran saya melaung ke perkataan Pak Muhsin Labib, "Banyak orang seagama tapi tak seiman. Banyak orang tak seagama tapi seiman." Peserta, kelompok diskusi CM Tangsel ini multikultural. Muslim dan Kristyana. Doaku beberapa tahun lalu dikabulkan Allah. Yakni ingin memiliki teman beda agama. Alhamdul...

Sang Guru

Gambar
Cinta yang Berpikir, Ellen Kristi, Bagian Prolog, Selesai. Seketika kegembiraanku sirna. Tidak menduga siulanku di kelas terdengar oleh Kiai Hari. Akankah aku dilempar penghapus papan? Diludahikah? Disuruh keluar kelas dan berdiri lama? Pikiran panikku menduga-duga. Saat itu aku lupa hukuman yang kuterima. Mungkin pikiranku semrawut dengan label 'aib' perempuan bersiul. Kiai Asyhari Mu'thi. Berwatak disiplin tinggi. Cintanya meluber terhadap ilmu pengetahuan. Koleksi kitab berbahasa Arabnya berderet di rak kayu jati. Di rumahnya. Puluhan buku. Di kelas, saat beliau monolog, kami murid-muridnya wajib memasang kedua telinga. Mata fokus. Mulut terkunci. Duduk tegap. Kedua tangan dilipat. Bila ketahuan ada yang mengantuk atau mengobrol, beliau akan melempar penghapus papan. Suasana kelas mencekam. Namun. Metodologi kekolotan mengajarnya tidak seluruhnya menyisakan trauma. Malah ludahnya dicari-cari. Tegurannya dinanti. Perhatiannya menjadi perburuan kami. Kami merasa...

Prolog; Memperkenalkan Sang Guru

Gambar
Jujur, saya sempat tertipu hasil pemotretan foto bayi baru lahir. Si bayi terlihat sangat menggemaskan. Ia menjadi sumber kebahagiaan. Lalu saya merapalkan mantra, diberi kesempatan sama. Pada tiap kesempatan, saya menceritakan ingin punya anak kembar. Dua bulan pernikahan tak kunjung hamil. Saya agak kesal pada suami. Mengapa ia belum berhasil menghamili saya. Juga, saya bosan kerja. Pikir saya, begitu hamil saya segera resign. Giliran saya tiba. Test pack yang ketiga menunjukkan dua garis. Aha, positif! Thanks, Dearest God. Matur nuwun, Mas Ali. Kebahagiaan saya terjaga. Makanan sehat, renang, kajian dan jalan-jalan adalah agenda rutin saya saat itu. Nawa lahir. Saya berhasil melalui hari-hari bersama Nawa dengan baik. Jelang usia Nawa tujuh bulan, saya merasakan perubahan tubuh dan emosi saya. Rupanya saya hamil lagi. Untuk pertama kalinya saya kecewa pada diri dan Mas Ali. Senafsu-nafsunya kami mengapa sampai jadi calon bayi lagi. Tak mudah menjalani kehamilan sek...