Postingan

Pentingnya Menjaga Ucapan

Pagi pukul 06.15 WIB aku dan mbak Hani, kakak iparku, tiba di pasar Cimanggis-Ciputat. Bau pesing  dan suasana kotor laiknya pasar tradisional segera menyengat hidungku. Sayuran busuk tercecer di mana-mana. Ibu-ibu sosialita tak mungkin berkunjung kemari. Kecuali bajet mereka pas-pasan. Kedatangan kami di sini untuk membuat santapan menyambut tahun baru Masehi 2018.  Kami mendatangi toko langganan mbak Hani untuk membeli daging namun kehabisan. Lalu kami mencari penjual daging lain. Alhamdulillah ketemu. Mbak Hani transaksi, aku mengamati. Tiba-tiba salah seorang mas berkaos hijau menghampiriku. “Masih sekolah ya, mbak?” Tanya penjual daging. “Udah punya anak lima.” Jawabku biasa saja. Tidak ramah, tidak ketus. “Udah punya cucu berarti ya?” Kejarnya dan tidak kujawab. Ekspresiku biasa. Ia tidak pula tersinggung dengan responku. Mengapa sapaan si penjual daging masih lekat di memoriku? Kemungkinan ada dua. Pertama. Aku sadar, usiaku yang 30-an bukan lagi us...

Bapak Mertuaku

Berita duka itu datang. Suamiku menangis mengabarkan kematian mbah Mali karena kecelakaan. Kepergiannya tiba-tiba dan tidak ada tanda-tanda. Di usianya yang ke 75 tahun ia masih sehat dan bugar. Rabu, 02 Agustus 2017 ia masih melakukan aktifitas seperti biasanya. Pergi ke sawah dan momong cucunya (anak dari adik iparku). Namun, Kamis, 03 Agustus 2017, pukul 9.30 berita kematian mbah Mali kudengar. Aku kaget dan menyesal setengah mati tidak berada di sisinya saat wafat. Aku di kampung Tuban. Sedangkan suami masih di Jakarta. Kami memang berniat pulang menemui Mbah Mali di Klaten sebab Juni 2017 kami tidak pulang untuk merayakan lebaran idul fitri karena anak kedua kami dirawat di RSUD selama seminggu. Mbah Mali, nama lengkapnya adalah Sumali Noto Sudarmo. Ia adalah mertukaku. Aku bersaksi mbah Mali adalah manusia baik yang sebagian besar hidupnya ia persembahkan untuk kebaikan sesama. Mbah Mali juga orang yang ringan menolong. Bahkan karakter orang Anshar (kaum Madinah) yang me...